• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

PT Pembangkitan Jawa-Bali Gandeng BPPT Hasilkan Bahan Bakar Murah untuk PLTU

9 March
16:04 2018
7 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menjalin kesepakatan dengan PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB) untuk mengkaji penerapan teknologi untuk menghasilkan bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan biaya terjangkau. 

Kepala BPPT Unggul Proyanto mengatakan, kesepakatan yang dilakukan dengan PJB dilakukan untuk mendukung kegiatan pengembangan teknologi perusahaan tersebut, di samping meningkatkan penguasaan teknologi.

BPPT yang memang memiliki peran kerekayasaan, kliring teknologi, audit teknologi, difusi dan komersialisasi, alih teknologi dan intermediasi. Dengan sumber daya yang dimiliki, ia mengatakan saat ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penyelesaian permasalahan pembangkit listrik di PJB.

"Dewasa ini masing-masing PLTU menghadapi tantangan tersendiri, khususnya dalam hal penyediaan bahan bakar, menjaga konsistensi kinerja pembangkit dan isu lingkungan," ujar Unggul di Jakarta, Jumat (9/3/2018).

Ketergantungan terhadap bahan bakar minyak dan gas dalam pengoperasian pembangkit juga menjadi permasalahan tersendiri bagi PLTU. Saat ini, menurut dia, BPPT sedang melakukan pengkajian mengenai Katalysch Drucklose Verlung yang dikenal dengan nama teknologi KDV.

Kerja sama ini ditujukan untuk memberi solusi, khususnya kepada pihak PJB, untuk mengurangi biaya bahan bakar pada pengoperasian PLTU.

Menurut Unggul, teknologi KDV ini merupakan teknologi depolimerisasi katalistik dengan tekanan rendah yang mampu mengolah batu bara muda (low rank coal), biomassa, dan limbah plastik menjadi bahan bakar minyak yang memiliki kualitas setara spesifikasi yang dipersyaratkan oleh mesin generator pembangkit listrik.

Produk bahan bakar minyak setara solar ini ia mengatakan diharapkan dapat menjadi solusi untuk substitusi bahan bakar eksisting yang relatif berfluktuatif di sisi harga.

Sementara, Direktur Utama PT PJB, Iwan Agung Firstantara mengungkapkan, untuk mengatasi permasalahan pembangkit  perusahaannya perlu mengembangkan teknologi agar operasionalisasi dapat lebihoptimal. Apalagi, saat ini pihaknya akan menambah kapasitas pembangkit dua kali lipat. Sebelumnya 14.000 megawatt (MW) dan disiapkan 14.000 MW yang sudah dimulai tahun 2017.

"Pembangkit eksisting yang ada saat ini sebagian besar berbahan bakar batu bara. Biaya per tahunnya mencapai Rp 24 triliun, sementara bahan bakar gas biayanya mencapai Rp 16 triliun sampai Rp 18 triliun per tahun," paparnya. (HF/AA)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00