• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Minimnya Anggaran Ancam Kelestarian Seni Budaya Jawa Barat

16 May
22:42 2018
0 Votes (0)

KBRN, Bandung : Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Ida Hermida mengakui anggaran untuk kegiatan seni budaya di Jawa Barat saat ini sangat berat. Bahkan pihaknya harus mengencangkan ikat pinggang, padahal Jawa Barat memiliki 643 seni budaya tradisional yang harus di pelihara.

"Untuk tahun ini, anggaran yang tersedia untuk kegiatan seni budaya di Jawa Barat sangat sedikit, karenanya tahun ini merupakan tahun mengencangkan ikat pinggang. Namun disisi lain kita juga membutuhkan biaya untuk promosi dan kegiatan seni budaya tradisional, saya baru menyadari kalau promosi dan kegiatan seni budaya tradisional sangatlah mahal,” ujarnya di Bandung, Rabu (16/5/2018).

Dikatakan Ida, selain harus memelihara 643 seni budaya, pihaknya juga  harus mengembangkan serta mewariskan, kepada generasi penerus. Hal itu memerlukan dana yang tidak sedikit.

" Kekayaan seni budaya tradisional yang menjadi jati diri masyarakat Jawa Barat tersebut dalam upaya pemeliharaan, pengembangan dan pewarisan melalui promosi dan pegelaran. Semuanya masih terkendala masalah biaya yang tidak sedikit,"ungkapnya.

Ia menambahkan, Disparbud Jawa Barat secara rutin melakukan upaya pemuliaan dengan menggelar berbagai seni budaya di Taman Budaya Jawa Barat maupun di Taman Mini Anjungan Jawa Barat. Hal itu juga terkendala dengan masalah biaya. Seperti untuk membayar seniman maupun biaya operasional lainnya.

"Membayar seniman tidaklah bisa murah dan sayapun ingin menghargai seniman dengan membayar wajar. Tapi tetap kendalanya masalah anggaran dan ternyata seni budaya sangat mahal,” ujarnya.

Selain masalah pembiayaan yang cukup tinggi untuk seni budaya, ada permasalahan lainnya. Ida mengungkapkan, dirinya pernah mempromosikan beberapa seni budaya, namun ketika wisatawan manca negara tertarik, seni budaya itu ternyata sudah tidak ada.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Paguyuban Seni Cianjuran Jawa Barat, Yus Wiradiredja mengatakan dibentuknya Paguyuban Seni Cianjuran Jawa Barat merupakan bentuk keprihatinan sekaligus kekhawatiran sejumlah pelaku seni dan juga penikmat seni tembang Cianjuran. Menurutnya seni Cianjuran sudah diakui dan teruji oleh masyarakat internasional dan begitu dihargai dengan banyaknya disertasi serta kajian para akademisi dari luar. Namun kesenian ini tegasnya tidak mendapat tempat di negeri sendiri.

" Diluar sangat dihargai tapi di negeri sendiri tidak begitu dihargai dan dikenal.
Padahal seni Cianjuran (tembang sunda) memiliki nilai value atau duriat dan dangiangnya baik secara filosofis maupun akademis bagi masyarakat Sunda,"ujarnya.

Untuk itu, pihaknya  berupaya bagaimana caranya seni Cianjuran bisa didagangkan (diwariskan) pada generasi yang akan datang, sehingga tidak akan punah.

Pada acara ”Istrenan Paguyuban Seni Cianjuran Jawa Barat” yang dihadiri sejumlah tokoh seni tembang Cianjuran disuguhkan sejumlah repertoar yang dibawakan sejumlah juru tembang generasi muda, di antaranya “Enteung-enteung” dan “Tawadu” karya maestro seni Gugum Gumbira Tirasondjaja, “Angrek Bodas” dan “Pepeling” (Gangan Garmana) dan acara dipungkas repertoar “Rama Dilangit Peteng” karya Yus Wiradiredja. (AZ/IR/HF)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00