• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Warisan Pahlawan : Cinta yang Membuat BJ Habibie Selalu Diingat

9 November
21:41 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Bangsa Indonesia akan memperingati Hari Pahlawan pada Minggu, 10 November 2019. Jelang peringatan Hari Pahlawan besok, banyak masyarakat yang mengunjungi taman makam pahlawan di daerahnya masing-masing. 

Mereka datang untuk mengirim doa kepada sanak keluarga yang dikebumikan di sana. Salah satu Taman Makam Pahlawan (TMP) yang mulai ramai dikunjungi masyarakat adalah TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

Seperti hasil tangkap kamera wartawan tadi siang, Muhammad Daud, mantan ajudan mendiang Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, dengan didampingi isteri dan keluarganya, berziarah ke makam almarhum BJ Habibie menjelang peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Sabtu (9/11/2019). 

Cukup lama Daud berada di sisi makam orang yang bertahun-tahun didampinginya tersebut, dengan terus dipayungi sang isteri. Kadang Daud menundukkan kepala dan mulutnya nampak berbicara. Kemudian, setelah lama duduk di sana, ia pun berdiri dan pergi meninggalkan makam.

Wartawan Antara, Indrianto Eko Suwarso yang berhasil mendapatkan momen kunjungan Muhammad Daud ke makam BJ Habibie memilih tidak mendekat atau menyapa Daud dengan pertimbangan itu adalah waktu pribadi yang tidak pantas untuk diganggu oleh siapapun.

BJ Habibie Tak Pernah Lupa

Bicara lupa, kadang manusia itu memang sering melupakan banyak hal, dari kecil sampai besar. Dan Habibie mewariskan moralitas manusia Indonesia seutuhnya ketika ia tak pernah lupa mengirim doa untuk isteri tercinta, Hasri Ainun Besari, atau karib disapa Ainun.

Ainun berjuang cukup lama melawan penyakit kanker ovarium yang dideritanya. Akhirnya, setelah lama menjalani pengobatan serta therapy di Munchen, Jerman, Tuhan memutuskan lain. Ainun meninggalkan Habibie untuk selamanya pada 22 Mei 2010. 

Tapi satu hal yang tak p[ernah dilupakan Habibie sejak kepergian Ainun adalah, sang Profesor selalu mengirim doa tahlil untuk Ainun setiap hari. Selain itu, Habibie juga tak pernah absen ziarah ke makam Ainun sekali dalam sepekan. Di sana, Habibie mengirim doa sekaligus mengajak Ainun bercakap-cakap beberapa saat. Dia mencurahkan apa yang dilakukannya setiap pekan, seolah AInun masih ada di sisinya.

"Bapak tiap hari tahlil buat Ibu. Misalnya dia pulang malam, jam dua belas atau jam satu, dia sempatkan tahlilan sampai tuntas. Itu tiap hari. Walau ada di perjalanan, itu juga tetap dilakukan. Kalau berkunjung ke makam Ibu sebisanya setiap pekan. Cuma kalau di Jerman dia susah, kalau di Indonesia minimal sekali sepekan dia menjenguk, berdoa di makam. Dia setia sama yang dicintai sampai dengan yang bersangkutan meninggal dunia," tutur Ilham Akbar Habibie, putra sulung BJ Habibie di Jakarta, seperti dilansir liputan6, Kamis, 12 September 2019.

Bahkan karena setiap hari mengirim doa dan sebisa mungkin ziarah setiap pekan, BJ Habibie terus ingat secara detil bagaimana proses meninggalnya sang isteri tercinta. Setiap ditanya oleh siapapun, Habibie akan menceritakan semua secara detil tanpa kurang suatu apapun.

"Bapak inget banget kapan Ibu berpulang. Misal Bapak ditanya, 'Kapan Ibu Ainun meninggal?', Bapak langsung jawab tahun sekian, bulan sekian, hari sekian," ucap Ilham.

Meski demikian, ada satu hal yang kerap dilupakan Habibie semasa hidupnya, yakni bahwa kala itu ia sudah berusia 80 tahun. Hal ini diungkapkan putra kandung Habibie lainnya, Thareq Kemal Habibie. 

"Beliau beraktivitas sangat banyak dan sangat tinggi sehingga beliau suka lupa kalau beliau sudah 80 tahun. Karena otak masih jalan. Tapi sesuai dengan natural manusia, badan tidak selalu ikut," kata Thareq kepada wartawan di Jakarta, Selasa, 10 September 2019.

Sang ayah, menurut Thareq adalah sosok yang sangat aktif berpikir dan bekerja, seolah otak dan semangatnya tidak akan habis. Namun itu tadi, Habibie lupa bahwa usia sudah 80 tahun sehingga sebetulnya sudah harus banyak istirahat dibandingkan berpikir dan bekerja.

BJ Habibie, sang Profesor, Bapak teknologi Indonesia pencipta CN-235 nan gagah berani di udara, akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 11 September 2019 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat, setelah berjuang cukup lama dengan masalah di jantungnya.

Cinta dan Kenangan untuk Pahlawan

Saat kabar meninggalnya BJ Habibie sudah mendunia, satu di antaranya ribuan mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Jerman, yakni Naufal Prathama, mengunggah sebuah pengalaman menarik, yaitu kenangannya saat disapa oleh BJ Habibie di sebuah toko serba ada di sana.

Melalui akun Twitternya, @palthama, Naufal menceritakan pertemuannya dengan BJ Habibie saat berada di Toko Asia.

"Satu sore di toko Asia, saya lagi sibuk masukin indomie dan santan ke keranjang belanja ketika saya mendengar seseorang menyapa saya 'Halo, kamu orang Indo ya? Kenalin, saya Habibie. Tapi biasanya saya dipanggil Eyang'," tulis Naufal.

Sebuah kerendahan hati seorang Profesor dan tokoh besar yang menyapa seorang mahasiswa yang saat itu bahkan mungkin saja sedang kebingungan memilih makanan apa yang akan dibelinya.

Sedangkan cucu keponakan BJ Habibie bernama Melanie Subono, juga mem-posting soal kepergian BJ Habibie di akun media sosial pribadinya. Berikut tulisan yang diunggah Melanie Subono:

Eyang ... SAMPAI JUMPA DI KEABADIAN ... Senangnya dah bisa ngelepas kangen sama eyang puteri, bisa berdua dua an lagi... Kita disini ikhlas asal eyang bahagia -- SELAMAT JALAN -- -

Terimakasih sudah membuat Indonesia jauh lebih baik, terimakasih sudah mengajarkan saya jadi PEJUANG , kalo bahasa eyang "PEMBERONTAK" -

Love you -

Warisan Pahlawan

BJ Habibie mewariskan hal tak terkira untuk bangsa Indonesia. Dengan menyaksikan burung besi CN-235 mengudara, siapapun takkan pernah lupa kepada Habibie, sosok sentral yang menciptakan pesawat yang sekarang banyak dipakai sebagai angkutan udara militer baik di Indonesia sampai banyak negara di dunia.

Tak lupa Habibie juga mewariskan cinta kepada generasi penerus bangsa ini. Bahwa dengan tulus menyayangi seseorang, akan membawa kebaikan bagi diri dan orang lain, sampai semua orang di sekitarnya.

Kedatangan Muhammad Daud ke makam Habibie, adalah refleksi bagaimana Sang Profesor akan terus dikenang oleh orang-orang yang mencintainya sebagai sosok ayah, bapak, teman, pimpinan, dan pahlawan. (Foto: Istimewa)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00