• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Tanggap Bencana

Kepala BMKG Bagikan Tips Mengetahui Bahaya Tsunami Pinggir Pantai

15 November
02:39 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Mengenai apakah getaran gempa itu berpotensi tsunami atau tidak, sebenarnya bagi yang berada di pesisir atau tepi pantai bisa menggunakan beberapa tips atau tanda sebelum mengambil langkah penyelamatan diri. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati sedikit membagikan cara atau tips mengenai hal tersebut dalam wawancara khusus bersama RRI PRO3, Jumat (15/11/2019) dini hari.

Sebagai contoh, menurut Dwikorita, bisa melihat saat terjadinya gempa di Bali Utara, Buleleng, Kamis (14/11/2019) sore.

"Banyak warga Bali (Buleleng) lari menjauh dari posisi (tepi) pantai. Satu hal, masyarakat sudah mulai terlatih untuk waspada. Tapi yang perlu jadi pedoman apakah meninggalkan laut atau tidak adalah apabila pada saat di pantai bisa merasakan goncangan kuat hingga badan ini (terasa) mau jatuh (oleng)," terang Dwikorita kepada RRI.

Durasi getaran hingga badan hendak jatuh tersebut lebih kurang 10 detik, atau 10 hitungan. Apabila demikian adanya, kata dia, segera saja tinggalkan kawasan tepi pantai untuk mencari tempat perlindungan di dataran yang lebih tinggi. 

"Nah, (getaran gempa) yang magnitudo 5,1 (di Bali) dengan kedalaman 10 km, pasti akan terasa. Tapi kalau lebih dari 10 km, biasanya tak ada guncangan badan. Jadi pedomannya itu tadi. Sehingga jangan panik, rasakan dulu olengnya atau hendak jatuhnya badan ini 10 hitungan atau tidak," ujarnya.

Lantas mengenai gempa susulan sebanyak 17 kali setelah getaran magnitudo 7,1 di Maluku Utara (Malut) dan Sulawesi Utara (Sulut), itu adalah wajar menurut Dwikorita. Karena gempa awal memang selalu diikuti getaran susulan sebagai manifestasi pelepasan energi yang tersisa. 

"Itu fenomena alam yang wajar sehingga masyarakat jangan panik namun (tetap) waspada. Jangan berada di bawah atau dekat bangunan yang sudah retak, rusak, atau rawan roboh. Tinggalkan bangunan yang seperti itu, cari tempat yang lapang atau bangunan yang lebih stabil," imbuhnya.

Dirinya juga meminta masyarakat jangan mudah termakan isu-isu yang menyesatkan di media sosial, yang hendak membuat orang panik. Cara menghindari hal tersebut adalah dengan mengikuti atau monitor info resmi BMKG melalui Twitter, Instagram (IG) maupun website resmi BMKG.

"Dan (memang) isu itu kadang mengatasnamakan BMKG, jadi check dulu informasi yang didapatkan dengan membuka website BMKG. Jangan juga percaya info yang mengatasnamakan dari lembaga luar negeri eropa atau Amerika. Karena alat (pendeteksi gempa dan tsunami) ada di sini (Indonesia)," pungkasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati juga mengutarakan, update kekuatan dan kedalaman gempa Maluku Utara (Malut) dan Sulawesi Utara (Sulut) masih sama dengan sebelumnya, alias belum ada perubahan.

Secara teknis, Dwikorita sempat menjelaskan, kedalaman gempa merupakan variabel penentu potensi tsunami. Semakin dangkal pusat gempa di bawah laut dan patahan naik di dasar laut, potensi tsunami semakin besar bila magnitudo mencapai angka 7 (tujuh). Itulah mengapa untuk gempa MKalut dan Sulut ini sudah dikeluarkan peringatan dini tsunami.

"Tsunami itu memang akibat gempa bumi. Namun bisa saja tsunami bukan karena gempa, akan tetapi akibat longsor bawah laut yang dipicu gempa bumi tersebut," terang Kepala BMKG Dwikorita Karnawati kepada RRI PRO3, Jumat (15/11/2019) dini hari.

Dirinya lanjut menuturkan, BMKG menganggap, 90 persen tsunami memang akibat adanya patahan naik saat gempa di dalam laut. Tapi dengan perkembangan terakhir, apabila patahan geser, kemudian terjadi longsor bawah laut, itu bisa membangkitkan bangkit tsunami.

"Ini yang membuat kami menunggu, (mengawasi) ada atau tidak kenaikan permukaan air laut," imbuhnya.

Untuk gempa kali ini, yang sebenarnya dimulai sejak tadi sore ketika terjadi Gempa di wilayah Bali Utara, Buleleng, masyarakat menurut Dwikorita nampak mulai terlatih untuk waspada. Itu terbukti dengan pergerakan mereka untuk mengungsi ke tampat yang lebih tinggi. 

Begitu pula ketika berlanjut dengan guncangan gempa Malut dan Sulut Kamis jelang tengah malam, masyarakat di tempat-tempat yang terdampak goncangan kuat juga sudah mulai terlatih untuk waspada akan bahaya bencana alam.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00