• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kuliner Nusantara

Pisang Tanduk Goreng Enak Sehat, Resep Rahasia Pak Sudi

29 December
10:33 2019
3 Votes (3.7)

KBRN, Jakarta : Jalan Sumur Batu Raya bukan hanya sekedar nama perlintasan atau kawasan permukiman, tapi boleh dikatakan merepresentasikan kemeriahan UMKM berbentuk kuliner tradisional Indonesia yang lezat. Semua pedagang kaki lima (PKL) pinggir jalan sampai yang menempati kios permanen, menawarkan makanan serta minuman segar yang pastinya tak dapat ditolak oleh siapapun untuk membeli dan mencicipinya. Salah satu kuliner yang patut dicoba adalah Pisang Tanduk Goreng atau akrab di telinga dengan sebutan gorengan pisang tanduk.

Tak jauh dari perempatan ramai yang memisahkan Jalan Howitzer Raya dan Jalan Sumur Batu raya, gerobak Pisang Tanduk Goreng Pak Sudi nangkring begitu tenangnya di atas trotoar. Seorang perempuan muda sibuk memotong pisang tanduk kemudian memasukkannya ke dalam loyang berisi adonan. Terkadang, ia mengambil pisang tanduk yang ada di dalam loyang untuk dimasukkan ke dalam penggorengan berisi minyak goreng yang panas menggelegak.

Di atas gerobak berjejer ragam jenis gorengan berbalut tepung, seperti tapai goreng, ubi goreng, talas goreng, dan tentunya pisang tanduk goreng. Memperhatikan si perempuan muda menggoreng pisang, saat gemericik minyak goreng panas melumat potongan pisang tanduk berbalut adonan tepung, tiba-tiba ada aroma harum yang sangat khas.

"Itu aroma wangi dari pisang tanduk goreng mas, dari adonan buatan saya. Kalau masuk penggorengan memang wangi adonan tepung manis," ujar pria paruh baya bernama Pak Sudi, pemilik dagangan pisang tanduk goreng kepada National Integrated Newsroom Radio Republik Indonesia (RRI), di Jalan Sumur Batu Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (28/12/2019).

Pak Sudi lantas sedikit membeberkan adonan tepungnya yang terdiri dari tepung tapioka, tepung beras, dan tepung cap payung. Ketiganya lantas dicampur jadi satu dengan air mineral, beri gula sesuai selera, lalu masukkan potongan-potongan pisang tanduk ke dalamnya. Diamkan beberapa menit agar meresap, kemudian mulai digoreng.

"Air untuk mencampur adonan tidak boleh pakai air mentah, harus air mineral atau minimal air minum isi ulang. Kemudian gula pasir pakai yang halus, agar mudah larut dan benar-benar terasa manisnya. Minyak goreng juga jangan yang curah, tapi gunakan minyak goreng kemasan untuk menjaga rasa dan membuat gurihnya mantap," papar Pak Sudi yang sudah satu tahun berjualan Pisang Tanduk Goreng ini.

Hanya itu? Tentu tidak, kata pria berusia 50 tahun itu. Tambahkan maizena dan garam secukupnya. Jika semua tepat sesuai takarannya, ia menjamin gorengan bakal laris manis.

BACA JUGA: Tahu Balut Pak Dudi, Merajut Mimpi di Pinggir Sumur Batu Raya

Dalam satu hari berjualan, Pak Sudi menghabiskan satu loyang berisi 3 (tiga) kilogram adonan tepung sesuai resepnya. Itu untuk semua jenis gorengan dagangannya, termasuk yang Pisang Tanduk Goreng. Tapi anehnya, dia tidak pernah menghitung berapa potong gorengan yang dihasilkan dari tiga kilogram adonan tersebut.

"Gampang saja, dari tiga kilogram adonan harus ada uang Rp 510.000 dengan waktu berjualan dari pagi sampai malam. Dan ini berlaku setiap hari. Jumlah uangnya terkadang bisa lebih banyak, tapi rata-rata segitu jumlahnya (Rp 510.000) tidak pernah kurang. Dan saya jual gorengan pukul rata harga satuan Rp 2.500," katanya.

Dirinya lantas merincikan, untuk satu kilogram adonan, uang yang harus diterimanya Rp 170.000. Otomatis, tiga kilogram harus ketemu angka Rp 510.000, tak bisa dibohongi atau ada alasan apapun. Pak Sudi sangat ketat dalam menghitung omset dagangannya. Alasannya, ia ingin membuka cabang gorengan pisang tanduk sebanyak-banyaknya demi mengejar omset harian. Karena jika hanya mengandalkan omset satu hari Rp 510.000, dalam satu bulan hanya ketemu angka Rp 15.300.000.

"Itu hitungan omset yang belum dipotong modal, operasional sehari-hari, serta biaya hidup saya dan keluarga. Berarti kecil keuntungan bersih saya. Ini pisang tanduk, bukan pisang-pisangan. Harga dari penyalurnya saja satuan bukan hitungan sisir atau tandan. Beruntung saya dapat harga satuan murah Rp 3.500. Dan dari satu buah pisang tanduk mentah, bisa dijadikan tiga sampai lima potong tergantung besar pisangnya. Minimal tiga potong lah," jelasnya.

Dari ketatnya cara Pak Sudi mengatur omset harian, akhirnya dia bisa membuka satu cabang Pisang Tanduk Goreng yang letaknya masih di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Di sana menurutnya bisa menghabiskan 10 kilogram adonan tepung sesuai resep yang telah dibeberkan sebelumnya. Berarti, dengan jam berjualan dari pukul 06.00-22.00 WIB, cabang barunya bisa menghasilkan omset Rp 1.700.000. 

"Tempat baru saya ramai, karena di pinggir jalan, belum ada saingan, dan dekat kantor polisi. Pak polisi itu banyak sekali, senang saya kalau mereka kumpul apel pagi atau mau operasi malam-malam. Gorengan saya laku keras jadinya," imbuhnya.

Akhirnya, setelah sekian lama berbincang santai, RRI coba menanyakan bagaimana ia meracik adonan gorengan tersebut hingga bisa menebar aroma wangi dan disukai banyak orang hingga dagangannya ludes setiap hari. Apalagi ia memakai beberapa jenis tepung yang diaduk menjadi satu, tambahkan maizena, gula, garam secukupnya, air mineral sebagai pencampur, serta minyak goreng kemasan untuk menjaga rasa dan gurihnya. Pasti ada takaran atau istilahnya ukuran baku yang digunakan untuk mencampur semua ingredient yang digunakan.

"Iya mas, jadi begini. Resep saya itu namanya rahasia," ungkap Pak Sudi sambil tersenyum lebar.

Kepolosan dan selera humor yang cukup tinggi sepertinya menjadi kekuatan Pak Sudi dalam berjualan, selain perhitungan detil menata omset harian. Kalau begitu sukses selalu, serta ditunggu pembukaan cabang berikutnya. (Foto: Miechell-RRI)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00