• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sorotan Kampus

Inilah Sistem Pintar Pendeteksi Kebakaran Hutan ala Mahasiswa UMM

20 January
15:43 2020
0 Votes (0)

KBRN, Malang: Kebakaran hutan di Indonesia masih menjadi polemik yang tak kunjung usai. Efek iklim atau kemarau panjang maupun pembukaan lahan ilegal masih menjadi polemik. Padahal  Indonesia merupakan negara yang menempati posisi ketiga terluas di dunia dengan hutan tropis. Bahkan Indonesia disebut menjadi salah satu paru-paru dunia. 

Hal inilah yang mendorong sekelompok mahasiswa Program Studi Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), untuk membuat sistem pintar yang dapat mendeteksi kebakaran hutan. Teknologi tersebut diberi nama Integrated Forest Fire Management Sistem. 

Billy Aprilio, ketua kelompok pembuat teknologi ini mengatakan, kasus kebakaran hutan di Indonesia telah menjadi masalah yang hingga kini masih belum teratasi. berdasarkan data BNPB per 15 September 2019, tercatat seluas 328.722 hektare hutan terbakar, dengan jumlah titik panas 538 titik panas. "Untuk itu, kami menciptakan inovasi yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence). Cara kerjanya, adalah dengan memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data. Inovasi ini mengurangi perluasan dampak kebakaran," ujar Billy, Senin (20/01/2020).

Teknologi besutan Billy Aprilio, Yasril Imam dan Ulfah Nur Oktaviana ini berupa temperatur suhu dan nyala api. Ketika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran. “Air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting,” katanya.  

Penyemprot tersebut, sambung Billy, akan menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali. “Namun, apabila sensor mendeteksi kategori kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat. Sehingga, tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” paparnya.

Selanjutnya, hasil dari Fog Harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. “Kemudian untuk power supplay, kami menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang kami aplikasikan pada pompa penyemprot air. Dengan adanya sistem pintar ini diharapkan akan meminimalisirkan terjadinya kebakaran hutan besar," ujarnya.

Temuan ini pun telah didaftarkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif. Diharapkan, teknologi ini bisa segera direalisasikan dalam waktu dekat mengingat pentingnya upaya penyelamatan hutan.  “Hutan memegang peran penting bagi kehidupan, diantaranya sebagai filter untuk mengurangi pemanasan global, dan penghasil oksigen terbesar di dunia. Bercermin dari peran penting hutan, disayangkan jika hutan di Indonesia terus mengalami penurunan dari setiap tahunnya akibat kebakaran," pungkas Billy. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00