• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Cegah Longsor, Peneliti Puslitbanghutan Kenalkan Teknik Soil Bioengineering

21 January
15:51 2020
2 Votes (5)

KBRN, Jakarta: Peneliti Puslitbanghutan Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK Budi Hadi Narendra mengenalkan teknik Soil Bioengineering dengan cara untuk menstabilkan lereng yang rawan terhadap longsor. 

"Teknik ini mengutamakan peran dari vegetasi, baik itu vegetasi pohon, rumput atau semak dalam penanganan pengurangan kerawanan longsor," ujar Budi di Kantor Kementerian LHK, Jakarta. Selasa, (21/1). 

Pada prinsipnya metode ini berusaha menutupi permukaan lereng yang terbuka dengan tanaman, agar akar tanaman dapat meningkatkan kohesi tanah sebagai suatu sistem konstruksi alami penstabil lereng. Selain itu, akar dapat menyerap air dalam tanah melalui proses transpirasi sehingga dapat menurunkan tegangan air pori. 

Sebagaimana halnya jenis tanaman akar wangi atau rumput vetiver yang sedang ramai dibicarakan saat ini, Budi menyampaikan, peranan akar pohon sebagai pengcekeraman juga dapat memberikan kestabilan tanah pada lereng, meski tetap bergantung pada faktor lain seperti sistem morfologi, penguatan, distribusi akar, dan interaksi antara akar-tanah. 

“Demikian pula halnya karakteristik sistem perakaran tanaman seperti kerapatan akar, jumlah akar, kedalaman akar, pola percabangan akar, sudut kemiringan akar, dan diameter akar juga akan mempengaruhi proses longsoran. Untuk meningkatkan stabilitas lereng, panjang akar mesti mencukupi supaya akar-tanah dapat berinteraksi dan mencengkeram tanah”, tambahnya.

Selain rumput vetiver, berdasarkan hadil penelitiannya bersama Dr. Ogi Setiawan di tahun 2012, perakaran tanaman bidara laut diketahui bisa digunakan untuk pengendalian longsor. 

"Bidara laut termasuk yang cocok ditanam di daerah rawan longsor, karena perakarannya sesuai, jenis pohon ukurannya tidak besar sehingga tidam terlalu membebani lereng. Akan lebih bagus dikombinasikan dengan vetiver," jelas Budi. 
 
Bencana tanah longsor dan banjir bandang yang menimpa wilayah Bogor dan Banten beberapa waktu lalu, diketahui berada pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung bagian hulu sub DAS Ciberang, serta di sub DAS Cidurian Hulu, yang memiliki kemiringan lereng >30%.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00