• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Juru Bicara BIN Minta Pemerintah Tiga Negara Atasi Pergerakan Kelompok Abu Sayyaf

22 January
20:02 2020
0 Votes (0)

 KBRN, Jakarta : Gerakan kelompok terorisme asal Filipina, Abu Sayyaf masih menjadi persoalan besar di perairan Indonesia. Penculikan demi penculikan dilakukan Abu Sayyaf terhadap banyak nelayan Indonesia. Terakhir, terdapat lima nelayan diculik Abu Sayyaf di Sabah, perairan Malaysia, pekan lalu.

Juru Bicara Badan Intelijen Nasional (BIN), Wawan Purwanto menyatakan kewaspadaan penculikan nelayan yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf membutuhkan kerja sama banyak pihak.

Baca juga : Lagi, WNI Nelayan Diculik Militan Abu Sayyaf

“Ya, memang itu daerah otonom, tingkat wilayahnya lebih masih kurang terkontrol oleh pihak Manila (Filipina, red). Sehingga, mereka masih gerak sendiri dengan cara cara illegal, mau itu melalui penculikan, maupun dengan tebusan,” kata Wawan kepada RRI.co.id di Jakarta, Kamis (22/1/2020).

Abu Sayyaf, kata dia, mereka tidak punya sumber pendanaan untuk gerakan. Sehingga, dengan cara cara seperti itu, Abu Sayyaf dikatannya meraih pundi pundi pendapatan demi menjalankan pergerakan selama ini.

Permintaan Abu Sayyaf dalam meminta tebusan dalam aksi penculikannya itu, selama ini tidak sedikit nilainya. Selama ini, pemerintah Indonesia telah membayar miliaran rupiah guna membebaskan tawanan mereka yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI). Tebusan itu dikaui tak sedikit nilainya oleh Wawan.

“Ini repotnya kan, menjadi kebiasaan. Betul (tebusan besar, red), ini kami ada komunikasi bersama dengan pemerintah Filipina, karena kita kan enggak mungkin lakukan gerakan offensive ke negeri orang,” ucap Wawan.

“Otoritasnya juga berbeda. Makanya kita, secara diplomatik juga untuk mengambil langkah langkah. Supaya ini tidak jadi kebiasaan, ya. Tidak sehat itu, ya,” sambung dia.

Pergerakan Abu Sayyaf, juga diketahuinya telah disergap oleh pasukan militer Filipina sendiri. Salah satu pimpinan terpengaruh Abu Sayyaf, dalam penyergapan itu ada yang tewas. Tapi, Wawan tidak menjelaskan secara rinci.

Perlawanan militer Filipina masih belum menyelesaikan masalah. Sebab, kelompok terorisme ini masih berkeliaran di berbagai perairan.

“Kita juga perlu sampaikan terbuka kepada Pemerintah Filipina agar (Abu Sayyaf, red) bisa diselesaikan secara tuntas, dan permanen. Kalau tidak kan, permasalahan terus berulang,” kata dia.

Penyelesaian yang Sama

Cara membebaskan tawanan Abu Sayyaf selama ini selalu dengan cara penebusan uang miliaran rupiah. Menjadi pertanyaan pula bagaiman pemerinta Indonesia mencari langkah lain, selain membayar sesuai permintaan Abu Sayyaf.

“Selama ini kan, kami melakukan upaya upaya pergerakan dengan menggunakan orang orang kita di sana, ya. Dan upaya itu kan juga dengan langkah langkah pendekatan, dan mengecoh mereka,” ujar Wawan.

Aksi penculikan kelompok Abu Sayyaf terhadap WNI sudah dilakukan sejak tahun 2016 lalu, dengan jumlah tawanan berbeda-beda. Selama ini, kata dia, penyekapan dilakukan Abu Sayyaf dilakukan di banyak tempat tertutup yang letaknya lumayan sulit ditemukan.

“Kami tetap berupaya, agar orang-orang kita di sana (Filipina, red) agar melakukan penugasan cepat,” ujar dia.

Perkuat Pertahanan

Wawan mengakui kesiagaan juga harus dilakukan oleh seluruh nelayan Indonesia, khususnya yang berada di perairan perbatasan negara.

“Ya, memang diharapkan seperti itu. Komunikasi bersama, Indonesia-Malayasia kan ada, setiap perlintasan itu masing masing punya teritori. Itu jelas satu pelanggaran, dan sebaliknya,” kata dia.

Saat ini, penculikan terjadi di tiga perbatasan negara, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina, maka Wawan juga mengakui harus ada perubahan dalam bidang menjaga pertahanan bersama. Kelompok Abu Sayyaf bisa saja mengganggu nelayan dari luar Indonesia.

“Sudah saatnya, tiga negara ini untuk bisa incharge, di situ. Keadaan kita dalam sistem patrol itu, bisa lebih intens. Saya minta nelayan nelayan itu, juga menjauhi wilayah wilayah yang memang berbahaya, ataupun berpotensi penangkapan seperti itu. Masing masing, jagalah,” tegas Wawan.

Siapakah Abu Sayyaf?

Kelompok perompak, terorisme yang bergerak di Filipina ini sejatinya adalah snama eorang mujahidin yang berperang melawan Uni Soviet, pada tahun 1980-an. Abu Sayyaf memiliki arti bapak ahli pedang dalam Bahas Arab, dan dia memiliki banyak anak buah dalam peperangan itu.

Aksi kelompok di Filipina itu, ternyata meminjam nama Abu Sayyaf demi memisahkan diri atau kelompok separatis Frint Pembebasan Nasional Moro (MNLF) di Filipina tahun 1991.

Kelompok ini tidak hanya ingin mewujudkan Mindano yang merdeka. Tetapi, mereka juga ingin mendirikan negara Islam di kawasan tersebut. Sejak itu, tahun 1991, Abu Sayyaf gencar memperjuangkan tujuan itu dengan memerangi aparat Filipina.

Menuurt pengamat terorisme Nasir Abbas, seperti dilansir BBC, 16 April 2016, Abu Sayyaf berbeda dengan MNLF dan pecahan lain MNLF, Moro Islamic Liberation Font (MILF). Nasir Abbas sendiri adalah mantan anggota kelompok separatis di Filipina.

Abu Sayyaf, lebih tidak terkontrol. Hal itu dikatakan Nasir dalam menjelaskan apa saja yang diperjuangkan Abu Sayyaf. Kekuatan kelompok perompak lautan ini, kata Nasir, karena anggotany bergabung didasari solidaritas, dan cenderung tidak berpendidikan, serta minim pengetahuan. Mereka melakukan pergerakan lantaran merasa terdapat intimidasi dari Pemerintah Filipina.

“Mereka seperti gerombolan gerombolan dengan banyak sel. Pimpinannya saja, tidak tahu berapa jumlah anggotanya,” ungkap Nasir. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00