• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Tradisi Besaoh, Semangat Perekat Perbedaan Masyarakat Bangka Belitung

24 January
00:05 2020
2 Votes (5)

KBRN, Pangkalpinang : Tradisi Besaoh dalam budaya masyarakat Bangka Belitung (Babel) berarti saling tolong menolong, membantu, menghargai, menghormati antar sesama. Besaoh mulanya timbul dari kebiasaan saling menolong atau dengan kata lain gotong royong dalam membuka lahan untuk berladang. Dan tradisi Besaoh ini dilakukan secara bergiliran, semisal hari ini Besaoh di lahan milik A, berikutnya di lahan milik B, C dan seterusnya.

Dengan semangat tersebut, Besaoh dalam konteks kekinian masih tetap terjaga dengan baik, bahkan dalam pengertian yang lebih luas Besaoh bisa dikatakan sebagai semangat saling menghargai antar budaya, antar agama dan sebagainya.

Pemerhati sosial budaya, seorang penulis yang telah melahirkan puluhan buku inspiratif, dan juga Tokoh Pemuda Bangka Belitung, Ahmadi Sofyan menyampaikan tentang keharmonisan dan toleransi masyarakat di Negeri Serumpun Sebalai Bangka Belitung yang timbul dari budaya Besaoh tersebut kepada RRI, Kamis (23/1/2020).

"Segala sendi kehidupan di Babel ini tak lepas dari Besaoh, kerjasama erat, bahkan kalau kita cermati semboyan Kabupaten/Kota di Babel ini menggambarkan tentang Besaoh. Bangka Selatan dengan Junjung Besaoh, Bangka Tengah Selawang Segantang, Bangka dengan Sepintu Sedulang, Bangka Barat dengan Selawang Segantang, semua maknanya Besaoh," tutur Ahmadi Sofyan.

Jadi kata dia, bisa dikatakan aset terbesar negeri ini sebenarnya keharmonisan, hidup toleran yang tinggi, dan bukan kekayaan alam, bukan timah, sahang (lada), sawit, tempat wisata, pantai-pantai. Dan itu benar-benar harus bisa dirawat dengan baik, dengan sikap saling menghargai dan mau menerima perbedaan.

Pria yang juga dikenal dengan sapaan Atok Kulop ini melanjutkan, di daerah lain, seringkali isu minoritas dan agama dijadikan komoditas petarung politik untuk menjatuhkan lawan politik. Namun di Bangka Belitung sama sekali tidak pernah ada upaya ke arah tersebut, dan masyarakatnya pun tak pernah terpengaruh dengan isu-isu yang kontra produktif itu.

"Pertama, urang (orang) Babel itu kebanyakan tidak mau ringem, atau tidak mau disibukkan hal-hal yang tak penting, dan jangan lupa ada ungkapan orang Bangka dak kawa nyusah atau tidak mau menyusahkan diri. Artinya di sini kecenderungan bahwa orang Bangka Belitung itu tidak mau menyusahkan diri sendiri dengan hal yang tidak ada untung, manfaat bagi dirinya, hal-hal semacam itulah yang membuat Bangka Belitung ini masyarakatnya aman dari isu negatif dan tak mudah terpengaruh," ujar Ahmadi.

Ditambahkannya bila tiap individu atau pemeluk agama di manapun memegang teguh prinsip saling menghargai dan penuh tolerasi, pasti akan tercipta hidup penuh harmoni, dan Bhinneka Tunggal Ika takkan pernah jadi slogan semata.

"Dalam kebiasaan keseharian bisa kita lihat, saat lebaran saling mengunjungi walau beda agama, pada baju pengantin juga nampak jelas pengaruh Melayu dan China berpadu, kuliner pun begitu. Banyak makanan khas Bangka Belitung ini asalnya dari daratan China seperti Hok Lo Pan atau Pandekok atau dikenal di Nusantara sebagai Martabak Bangka. Jadi asimilasi budaya itu bukan barang baru, dan di Babel asimilasi budaya itu berjalan dengan baik," tandas pria penyuka kopi ini.

Ahmadi Sofyan menegaskan, bahwa bila berkaca dengan keadaan di Bangka Belitung, patut disyukuri dan sudah menjadi tugas bersama untuk merawat dengan baik situasi yang sudah kondusif tersebut.

"Kita harus bersyukur dengan keadaan ini. Tugas berat tapi terbukti selama ini bisa kita rawat bersama, dan semoga semangat toleransi dari Bangka Belitung ini jadi virus yang menyebar ke seluruh negeri," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00