• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Cuaca Tidak Menentu, Nelayan Semarang Butuhkan Pos Pantau

23 January
16:33 2020
0 Votes (0)

KBRN, Semarang : Gelombang tinggi di laut Jawa mengakibatkan beberapa nelayan tidak berani berlayar karena takut keselamatannya terancam. Jika memaksakan melaut ketika ombak tinggi, dikhawatirkan dapat kehilangan nyawa seperti nasib dua nelayan pada Desember 2019 lalu.

“Bulan lalu (Desember 2019) dua nelayan meninggal dunia ketika melaut karena tersambar petir,” kata Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) kota Semarang Slamet Ari Nugroho Kepada RRI, Kamis (23/1/2020).

Saat ini menurut Ari, saat ini merupakan masa angin baratan sehingga ikan dilaut sedang melimpah. Namun, ombak tinggi beberapa hari terakhir mengakibatkan nelayan tidak berani berlayar hingga ke tengah laut.

“Beberapa akhir ini awan dilaut terlihat gelap mengumpal, tandanya akan ada hujan. Akhirnya nelayan hanya melaut dipinggir saja, bahkan ada yang tidak berani melaut,” jelasnya.

Menyikapi hal ini, Ari mengemukakan diperlukan pos pantau dipesisir laut untuk memastikan kondisi cuaca. Meski pihaknya terus berkordinasi dengan BMKG, namun diperlukan pantauan langsung agar kondisi cuaca dapat diketahui secara akurat.

“Kita sudah melakukan pengajuan dan konsultasi ke beberapa instansi untuk pembangunan pos pantau di kawasan pesisir agar nelayan dapat berlayar dengan tenang,” ujarnya.

Disisi lain, Ari juga berharap para nelayan mendapat kemudahan dalam mengakses perbankan. Kemudahan tersebut penting bagi nelayan untuk kebutuhan ekonomi selama tidak dapat melaut.

“Kedepan kami ajukan audiensi dengan DPRD kota Semarang untuk membahas bantuan kepada nelayan yang membutuhkan bantuan modal pasca tidak dapat melaut,” tandasnya.

  • Tentang Penulis

    Syamsudin

    Tak Perlu Memikirkan Kemana Akan Berlabuh, Pikirkan Saja Jalan Mana Yang Akan Ditempuh

  • Tentang Editor

    Syarif Hasan Salampessy

    Redaktur Puspem LPP RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00