• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosok

Inspirasi Imlek : Abraim, 50 tahun Hidup Sebagai Pembuat Hio

24 January
04:30 2020
0 Votes (0)

KBRN, Medan : Perayaan Imlek 2571 yang akan jatuh pada 25 Januari 2020 mendatang, menjadi hari besar bagi masyarakat keturunan Tionghoa di seluruh dunia. Termasuk di Indonesia, sejumlah masyarakat keturunan Tionghoa akan menyambut perayaan Imlek yang memasuki Shio Tikus Tembaga dengan penuh suka cita.

Biasanya menjelang Imlek, sejumlah mereka melakukan bersih – bersih rumah dan sejumlah vihara sebagai tempat sembahyang nantinya. Berbagai perlengkapan dan hiasan Imlek juga terus diburu mereka yang hendak merayakannya nanti. Salah satunya adalah Hio atau dikenal dengan Dupa, yang digunakan sebagai media sembahyang bagi umat Khonghucu di Vihara.

Menjelang Imlek, sejumlah pabrik pembuatan Hio tentu menjadikannya momen bagus dalam meningkatkan hasil penjualan, sebab permintaan masyarakat meningkat dari hari biasa. Berbagai bentuk dan jenis ukuran Hio dihasilkan oleh para pekerja, salah satunya dengan ornamen naga agar sesuai dengan nafas Imlek.

Abraim adalah pria 69 tahun asal Diski, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Hidupnya selama ini bergantung pada pekerjaannya sebagai pembuat Hio di salah satu pabrik. Selama 50 tahun Abraim bekerja di salah satu pabrik Hio di kawasan Sunggal, Gang Mangga, Kota Medan.

Arbain mengatakan, dirinya mulai bekerja sejak masih lajang, atau ketika berusia sekitar 20 tahun. Abraim mengaku, keahliannya mengukir ornamen naga hanya diperoleh secara otodidak.

“Sudah 50 tahun kerja di sini saja. Sejak lajang belajar otodidak kira – kira umur 20 tahun,” ucapnya kepada RRI, Kamis (23/1/2020).

Abraim lanjut menuturkan, ia mulai bekerja sebagai pembuat Hio sejak 1972 atau pada kali pertama pabrik Hio milik kakek Akoang berdiri di kawasan Jalan Bilal, Pulo Brayan, Medan. Pekerjaan Abraim dimulai sejak pukul 6 pagi hingga sore hari.

“Dulu lokasi pertama pabrik di Jalan Bilal Pulo Brayan di awal 1972. Kemudian pindah ke proyek air bersih dan pindah ke sini (kawasan Sunggal, Gang Mangga) pada 1976,” ucapnya.

Abraim mampu menghasilkan beragam ukiran Hio. Mulai dari yang berukuran 4 Inchi hingga yang terbesar, berdiameter 12 Inchi. Untuk ukuran 12 Inchi, dirinya bisa menghasilkan 10 hingga 12 batang ukiran ornamen naga.

“Ukuran 8 Inchi untuk satu hari bisa kita buat 15 batang dengan motif gambar naga. Terus untuk ukuran 12 inchi sampai 10 batang per hari. Kalo 4 Inchi dua pekerja bisa hasilkan 40 batang,” ungkap Abraim yang tak pernah lepas mengenakan topi itu.

Dalam membuat Hio, kata Abraim, memerlukan waktu panjang minimal 2 bulan mulai tahap pengolahan bahan dasar serbuk hingga siap untuk dijual. Untuk bahan dasar Hio diperoleh dari bahan abu kayu sisa pengrajin mebel atau panglong. Sebelum dicetak dalam bentuk gulungan, sebelumnya serbuk digiling menggunakan mesin untuk mendapatkan tekstur yang lembut.

Setelah dicetak dalam bentuk gulungan, kemudian dijemur selama 6 hari. Setelah kering, kemudian dibentuk ornamen naga, selanjutnya dicat dan tahap terakhir adalah pengeringan.

“Terbuat dari abu kayu sisa panglong. Selanjutnya dihaluskan pakai mesin, kemudian dicetak ke dalam kayu panjang. Setelah itu, yang sudah dicetak ke batang, dijemur paling cepat satu minggu. Sedangkan untuk ukuran besar sampai berbulan – bulan karena harus melalui beberapa tahapan. Pewarnaannya menggunakan pewarna gincu,” ucap pria asal Kalimantan ini menambahkan.

Satu bulan menjelang Imlek, Abraim mengatakan permintaan Hio meningkat dari hari biasa. Bahkan permintaan tidak hanya berasal dari daerah Sumatera Utara saja, melainkan datang juga dari Pulau Jawa.

Akan tetapi, menurut Abraim, pemesanan dari luar Sumatera sebenarnya selalu ada setiap hari, seperti dari Jawa, kemudian dari daerah sekitar semisal Padang, Rantau Parapat, Siantar, namun memang kenaikan permintaan terjadi menjelang perayaan Imlek setiap tahunnya.

  • Tentang Penulis

    Joko SA

    System Admin RRI Medan<br />

  • Tentang Editor

    Miechell Octovy Koagouw

    Miechell Octovy Koagouw Editor RRI

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00