• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Santunan Lakalantas 2019 Khusus Korban Luka-Luka Di NTB Capai Rp.40 Miliar Lebih

24 January
13:56 2020
0 Votes (0)

KBRN, Mataram : Realisasi pembayaran asuransi santunan bagi korban kecelakaan Lalulintas  yang dilakukan  PT. Jasa Raharja (Persero) NTB, dibandingkan selama tahun 2019   khusus korban luka-luka, mengalami kenaikan.

Selama tahun 2019 realisasi pembayaran  korban luka-luka  mencapai  Rp. 40 Miliar 508 Juta, dibandingkan pada tahun 2018 yang mencapai  40 Miliar 142 Juta, berarti ada kenikan 2 porsen atau sebesar Rp. 900 Juta.

Kepala Cabang PT.  Jasa Raharja (Persero) NTB, Mulyadi, SE, kepada RRI, Jumat (24/1/2020), usai dialog interaktif di RRI Mataram menjelaskan prosentase pembayaran santunan  bagi korban lakalantas yang luka-luka mengalami kenaikan,  karena petugas  Jasa Raharja pro aktif  mendatangi  pihak  rumah sakit, begitu ada kecelakaan.

“Petugas kami sudah pro aktif  jemput bola  dengan mendatangi Rumah Sakit, begitu ada kecelakaan,  kami datang untuk medorong keluarga korban maupun korban untuk  melaporkan ke pihak Kepolisian,” ucap Kepala Cabang PT. Persero Mataram, Mulyadi, yang di dampingi Kepala Operasional  Jasa Raharja, Wahyu Prio Wibowo, SE serta Kepala Operasional  Mobil Service, Nasrullah,ST.   

Dengan adanya respon cepat dari petugas Jasa Raharja  dalam memberikan jaminan kepada pihak Rumah Sakit, berarti   Jasa Raharja berhasil menekan tingkat kematian. Karena korban cepat mendapatkan pertolongan medis dari pihak rumah sakit.  

Untuk santunan asuransi korban yang meninggal dunia mengalami penurunan.

Hal ini dapat dilihat dari data pada   tahun 2018 lalu,  jumlah dana  asuransi  yang dibayarkan oleh  PT. Jasa Raharja Mataram mencapai Rp 25 Miliar  800 Juta, turun  mencapai Rp. 25 Miliar 275 Juta, ditahun 2019. Dengan demikian terjadi penurunan mencapai Rp. 600 Juta.   

“Alhamdullilah korban yang meninggal dunia  ada penurunan mencapai Rp.600 Juta,” jelasnya.

Data menunjukkan  umumnya, korban kecelakaan itu  adalah pelajar dan diperingkat kedua adalah usia produktif, termasuk di dalamnya adalah kepala keluarga yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Terus terang ketika   kepala keluarga  menjadi korban kecelakaan meninggal dunia, tentu   ada anak dan istri yang ditinggalkan dan ini   dikhawatirkan terjadi kemiskinan, karena yang meninggal dunia adalah tulang punggung keluarga,” pungkasnya.   

 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00