• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Wapres : Santri dan Pesantren Harus Entaskan Kemiskinan

24 January
21:54 2020
0 Votes (0)

KBRN, Jombang : Wakil Presiden RI KH Maruf Amin, mendorong para santri dan pesantren untuk ikut berkontribusi aktif menekan angka kemiskinan di negeri ini.

Konkretnya yakni dengan meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) melalui penguatan kemandirian dan kewirausahaan.

“Saya harapkan dapat menciptakan kemandirian umat melalui santri, masyarakat, dan pesantren itu sendiri agar memajukan kemandirian ekonomi, sosial, dan memacu perkembangan skill teknologi dan skill pemasaran melalui pendekatan kratif, inovatif, dan strategis,” kata Ma'ruf dalam keterangan resmi yang diterima wartawan, Jumat (24/1/2020).

Sebelumnya, Kiai Maruf sempat membuka Rakernas Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan Gelar Karya Santri Nusantara, Santri Digital Fest, di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Disitu, dia mengapresiasi tema Rakernas IPPNU “Santri Goes beyond Digital Society”. Sebab menurut dia, bagaimanapun juga, kemampuan pelajar dan santri terkait pengetahuan digital harus ditingkatkan. 

"Karena revolusi industri 4.0 telah membawa perubahan besar dalam tatanan masyarakat di segala lini meliputi antara lain ekonomi, budaya, dan sosial," tandasnya.

Diharapannya dengan adanya dukungan santri dan pesantren, ekonomi kerakyatan akan terus menguat. Ujung-ujungnya kesenjangan antara pelaku ekonomi lemah dan pelaku ekonomi kuat pun semakin menipis.

"Itu arus baru ekonomi Indonesia yang berbasis kolaborasi antara pelaku ekonomi kuat dan lemah. Bukan konfrontasi, juga bukan sekadar menungu trickle down effect," imbuhnya.

Perlu diketahui, di Jatim sesungguhnya sudah ada Program One Pesantren One Product (OPOP). Terkait itu, dia menilai bahwa program tersebut berintikan kolaborasi. Dimana pilarnya adalah sinergi antara koperasi pondok pesantren, forum bisnis, pengusaha alumni pesantren, dan Kantor Dagang Indonesia (Kadin). 

Ekosistem pengembangan OPOP menggunakan metode antara lain training, mentoring, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi permodalan. OPOP Training Center telah didirikan di Universitas NU Surabaya (UNUSA). Jaringan program ini terdiri kementerian, BUMN,  perusahaan swasta, organisasi internasional, dan lembaga pendidikan.

Sejumlah pesantren besar yang tergabung dalam program OPO ini merata di seluruh Jawa Timur. Mulai Pesantren di Lamongan (Sunan Drajat), Tuban (Langitan), Pasuruan (Sidogiri), Mojokerto (Amanatul Ummah), Ponorogo (Gontor), Malang (Al HIkam), Probolinggo (Nurul Jadid), Sumenep (An Nuqoyyah, Al Amin), sampai Banyuwangi (Blok Agung). 

Ditekankan Maruf, pilar OPOP Jawa Timur jangan hanya individu santri menjadi santripreneur, atau institusi pesantren menjadi pesantrenpreneur, tetapi juga para alumni harus bisa menciptakan sosiopreneur. Muaranya adalah menghasilkan produk sesuai standar syariah dan halal, yang diterima pasar, berdaya saing, serta berbasis ekonomi digital.

Diharapannya gerakan OPOP yang dimulai Pemprov Jatim sejak 2019 tersebut mampu menargetkan agar pada tahun 2023 menciptakan 1 juta santriprenuer dengan 1.000 produk unggulan barang ataupun jasa. 

Misalkan pada tahun 2019 menarget 100 ribu santripreneur dengan 150 produk unggulan. Pada 2020 menarget 200 ribu santripreneur dan 200 produk unggulan. Pada 2021 menarget 200 ribu santripreneur  dan 200 produk unggulan. Pada 2022 menarget 250 ribu santripreneur  dan 200 produk unggulan. Sementara pada tahun 2023 menarget 250 ribu santripreneur  dan 250 produk unggulan.

Selain di Jawa Timur, program OPOP juga berkembang dinamis di Jawa Barat sejak 2018. Wapres menegaskan gerakan ekonomi pesantren sudah lama berlangsung. Gerakan inipun harus didampingi, difasilitasi, dan dikolaborasikan dengan berbagai pemangku kepentingan.

"Gerakan ini akan menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang strategis bagi upaya meningkatkan kesejahteraan umum. Saya ingin ada Santri Gus Iwan Santri Bagus Pintar dan Wirausawahan. Sehingga pesantren bukan hanya pusat pencetak ulama yang mutafaqqih fiddin tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi dengan semangat kebangkitan Nahdlatut Tujjar yang didirikan kaum santri," pungkas Kiai Ma'ruf. (Foto : Istimewa)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00